Jumat, 03 November 2023

HARI PAHLAWAN 10 NOVEMBER



Hari Pahlawan 10 November merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah negara Republik Indonesia.

Karena pada 10 November 1945 terjadi pertempuran besar pasca kemerdekaan, yang dikenal juga sebagai pertempuran Surabaya.

Peringatan Hari Pahlawan 10 November untuk mengingat pertempuran Surabaya yang terjadi pada 1945. Peristiwa tersebut diawali insiden perobekan Bendera Merah Putih Biru di atas Hotel Yamato pada 19 September 1945.

Pemicu Pertempuran 10 November 1945

Pertempuran Surabaya merupakan pertempuran antara pasukan pejuang Indonesia yang diorganisir oleh pasukan anggota eks. Pembela Tanah Air yang dibentuk oleh Pasukan Jepang dan Polisi Istimewa di waktu masa Pendudukan Jepang di Indonesia (yang dulunya Hindia Belanda) pada saat itu, yang bertujuan untuk mencegah pasukan sekutu pasca Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu di Perang Pasifik yang mendarat di kota Surabaya yang terdiri dari pasukan Kekaisaran Britania dengan sukarelawan Persemakmuran Britania yakni Angkatan Darat India Britania dengan mendapatkan dukungan khusus oleh tentara Kekaisaran Belanda.

Puncaknya terjadi pada tanggal 10 November 1945. Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan Sekutu setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme dan imperialisme.  Usai pertempuran ini, dukungan rakyat Indonesia dan dunia internasional terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia semakin kuat. 10 November diperingati setiap tahun sebagai Hari Pahlawan di Indonesia.


Ketika pasukan Britania mendarat pada akhir Oktober 1945, Surabaya digambarkan sebagai "benteng bersatu yang kuat " (di bawah Pemuda). Pertempuran pecah pada 30 Oktober setelah komandan pasukan Britania, Brigadir A. W. S. Mallaby tewas dalam baku tembak. Britania melakukan serangan balasan punitif pada 10 November dengan bantuan pesawat tempur. Pasukan kolonial merebut sebagian besar kota dalam tiga hari, pasukan Republik yang minim senjata melawan selama tiga minggu, dan ribuan orang meninggal dunia ketika penduduk kota mengungsi ke pedesaan.


Meskipun kalah dan kehilangan anggota dan persenjataan, pertempuran yang dilancarkan pasukan Republik membangkitkan semangat bangsa Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaannya dan menarik perhatian inter nasional. Belanda tidak lagi memandang Republik sebagai kumpulan pengacau tanpa dukungan rakyat. Pertempuran ini juga meyakinkan Britania untuk mengambil sikap netral dalam revolusi nasional Indonesia; beberapa tahun kemudian, Britania mendukung perjuangan Indonesia di PBB.


Tanggal 1 Maret 1942, tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, dan tujuh hari kemudian pada tanggal 8 Maret 1942, pemerintah kolonial Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Kekaisaran Jepang berdasarkan Perjanjian Kalijati. Setelah penyerahan tanpa syarat tersebut, Pulau Jawa secara resmi diduduki oleh Jepang.


Tiga tahun kemudian, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah dijatuhkannya bom atom oleh Amerika Serikat di Hiroshima tanggal 6 Agustus 1945 dan Nagasaki tanggal 9 Agustus 1945. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 14 Agustus 1945 yang menyebabkan terjadinya kekosongan kekuasaan. Dalam kekosongan kekuasaan asing tersebut, Soekarno kemudian memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.


Setelah kekalahan pihak Jepang, rakyat dan pejuang Indonesia berupaya melucuti senjata para tentara Jepang. Maka timbullah pertempuran-pertempuran yang memakan korban di banyak daerah. Ketika gerakan untuk melucuti pasukan Jepang sedang berkobar, tanggal 15 September 1945, pasukan Britania mendarat di Jakarta, kemudian mendarat di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945. Tentara Britania datang ke Indonesia tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) atas keputusan dan atas nama Blok Sekutu, dengan tugas untuk melucuti senjata tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara kekaisaran Jepang ke negerinya. Namun selain itu tentara Britania yang datang juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan sipil Hindia Belanda sebagai negeri jajahan kolonial Belanda yang disebut NICA (Netherlands Indies Civil Administration).

Insiden di Hotel Majapahit, Tunjungan, Surabaya

Hotel Oranje Surabaya tahun 1937

Setelah munculnya maklumat pemerintah Indonesia tanggal 31 Agustus 1945 yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Saka Merah Putih dikibarkan terus di seluruh wilayah Indonesia, gerakan pengibaran bendera tersebut makin meluas ke segenap pelosok kota Surabaya. Klimaks gerakan pengibaran bendera di Surabaya terjadi pada insiden perobekan bendera di Yamato Hoteru / Hotel Yamato (bernama Oranje Hotel atau Hotel Oranye pada zaman kolonial, sekarang bernama Hotel Majapahit) di Jalan Tunjungan no. 65 Surabaya.

Sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman pada malam hari tanggal 18 September 1945, tepatnya pukul 21.00, mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara. Keesokan harinya para pemuda Surabaya melihatnya dan menjadi marah karena mereka menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia, hendak mengembalikan kekuasaan kembali di Indonesia, dan melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang berlangsung di Surabaya.

Tak lama setelah mengumpulnya massa di Hotel Yamato, Residen Soedirman, pejuang dan diplomat yang saat itu menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, datang melewati kerumunan massa lalu masuk ke Hotel Yamato dikawal Sidik dan Hariyono. Sebagai perwakilan RI dia berunding dengan Mr. Ploegman beserta kawan-kawannya dan meminta agar bendera Belanda segera diturunkan dari gedung Hotel Yamato. Dalam perundingan ini Ploegman menolak untuk menurunkan bendera Belanda. Perundingan berlangsung memanas, Ploegman mengeluarkan pistol, dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan. Ploegman tewas dicekik oleh Sidik, yang kemudian juga tewas oleh tentara Belanda yang berjaga-jaga dan mendengar letusan pistol Ploegman, sementara Soedirman dan Hariyono melarikan diri ke luar Hotel Yamato. Sebagian pemuda berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Hariyono yang semula bersama Soedirman kembali ke dalam hotel dan terlibat dalam pemanjatan tiang bendera dan bersama Koesno Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, dan mengereknya ke puncak tiang bendera kembali sebagai bendera Merah Putih.

Pengibaran bendera Indonesia setelah bendera belanda berhasil disobek warna birunya di hotel Yamato

Setelah insiden di Hotel Yamato tersebut, pada tanggal 27 Oktober 1945 meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris . Serangan-serangan kecil tersebut di kemudian hari berubah menjadi serangan umum yang banyak memakan korban jiwa di kedua belah pihak Indonesia dan Inggris, sebelum akhirnya Jenderal D.C. Hawthorn meminta bantuan Presiden Soekarno untuk meredakan situasi.


Setelah gencatan senjata antara pihak Indonesia dan pihak tentara Inggris ditandatangani pada tanggal 29 Oktober 1945, keadaan berangsur-angsur mereda. Walaupun begitu tetap saja terjadi bentrokan-bentrokan bersenjata antara rakyat dan tentara Inggris di Surabaya. Bentrokan-bentrokan bersenjata di Surabaya tersebut memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober 1945 sekitar pukul 20.30. Mobil Buick yang ditumpangi Brigadir Jenderal Mallaby berpapasan dengan sekelompok milisi Indonesia ketika akan melewati Jembatan Merah. Kesalahpahaman menyebabkan terjadinya tembak menembak yang berakhir dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby oleh tembakan pistol seorang pemuda Indonesia yang sampai sekarang tak diketahui identitasnya, dan terbakarnya mobil tersebut terkena ledakan granat yang menyebabkan jenazah Mallaby sulit dikenali. Kematian Mallaby ini menyebabkan pihak Inggris marah kepada pihak Indonesia dan berakibat pada keputusan pengganti Mallaby, Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh untuk mengeluarkan ultimatum 10 November 1945 untuk meminta pihak Indonesia menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan pada tentara Inggris.


Semboyan Merdeka Atau Mati

Ultimatum-ultimatum yang disebarkan melalui pamflet udara oleh tentara Inggris membuat rakyat Surabaya sangat marah. Nyaris seluruh sudut kota Surabaya dipenuhi pemuda dan kelompok bersenjata. Dalam ingatan Suhario alias Hario Kecik (Wakil Komandan Tentara Polisi Keamanan Rakyat), di sekitarnya berkumpul ratusan pemuda, semuanya membawa senjata dan pistol otomatis. Hario Kecik mengatakan bahwa mereka yang disebut tidak lengkap, membawa granat. Pertemuan pemuda dan kelompok bersenjata di Surabaya memutuskan mengangkat Sungkono sebagai Komandan Pertahanan Kota Surabaya dan mengangkat Surachman sebagai Komandan Pertempuran. Dari sini, muncul semboyan "Merdeka atau Mati" dan Sumpah Pejuang Surabaya sebagai berikut.

Tetap Merdeka!

Kedaulatan Negara dan Bangsa Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 akan kami pertahankan dengan sungguh-sungguh, penuh tanggungjawab bersama, bersatu, ikhlas berkorban dengan tekad: Merdeka atau Mati! Sekali Merdeka tetap Merdeka!

— Surabaya, 9 November 1945, jam 18:46

 

Pertempuran 10 November 1945 

Bung Tomo di Surabaya, salah satu pemimpin revolusioner Indonesia yang paling dihormati.

Setelah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, penggantinya, Mayor Jenderal Robert Mansergh mengeluarkan ultimatum yang menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi pada tanggal 10 November 1945.

Ultimatum tersebut kemudian dianggap sebagai penghinaan bagi para pejuang dan rakyat yang telah membentuk banyak badan-badan perjuangan / milisi. Ultimatum tersebut ditolak oleh pihak Indonesia dengan alasan bahwa Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri, dan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) juga telah dibentuk sebagai pasukan negara. Selain itu, banyak organisasi perjuangan bersenjata yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar yang menentang masuknya kembali pemerintahan Belanda yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia.

Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan. Pasukan sekutu mendapatkan perlawanan dari pasukan dan milisi Indonesia.

Selain Bung Tomo terdapat pula tokoh-tokoh berpengaruh lain dalam menggerakkan rakyat Surabaya pada masa itu, beberapa datang dari latar belakang agama seperti KH. Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Abdul Karim serta kyai-kyai pesantren lainnya juga mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat sipil sebagai milisi perlawanan (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai/ulama) sehingga perlawanan pihak Indonesia berlangsung alot, dari hari ke hari, hingga dari minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran ini mencapai waktu sekitar tiga minggu.


Korban Jiwa

Perkiraan kematian di Indonesia berkisar antara 6.300 sampai 15.000, dan perkiraan kurang lebih 200.000 orang melarikan diri dari kota yang hancur tersebut. Korban warga British Indian berjumlah 295 orang tewas dan hilang. Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk melakukan perlawanan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada hari 10 November ini kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan oleh Republik Indonesia hingga sekarang.

Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945 itu pun ditetapkan sebagai Hari Pahlawan melalui Keppres Nomor 316 tahun 1959 pada 16 Desember 1959.

Keputusan itu ditetapkan oleh Presiden Soerkarno. Kala itu Soekarno memutuskan juga menetapkan hari nasional bukan hari libur. Salah satunya yakni Hari Pahlawan 10 November.

Berdasarkan buku Bung Tomo, Hidup dan Mati Pengobar Semangat Tempor 10 November karya Abdul Waid pertempuran itu dipicu dengan sejumlah hal.

Peristiwa itu bermula setelah terjadinya kekalahan Jepang, kemudian rakyat dan pejuang Indonesia berupaya keras mendesak para tentara Jepang untuk menyerahkan semua senjatanya kepada Indonesia.


Makna Hari Pahlawan:

Kisah tersebut tak hanya menunjukkan sejarah negara, melainkan juga mengajarkan keteladanan kepada anak-anak Indonesia, seperti kejujuran, kegigihan, pantang menyerah, dan melakukan kewajiban dan hak.

Untuk bisa mengenalkan makna Hari Pahlawan kepada mereka dari kehidupan sehari-hari.

Seperti mempertahankan kemerdekaan dengan belajar tekun, meraih prestasi di bidang yang diminati, menolong teman yang sedang kesusahan, dan membiasakan untuk mengucapkan terima kasih, maaf, serta tolong kepada orang lain.


Penulis: arf_29

Rabu, 01 November 2023

Hari Guru Nasional 2023

 

Apresiasi

Guru dan
Tenaga
Kependidikan

Tahun 2023

Mari rayakan Hari Guru Nasional dengan terus belajar, berkarya, dan berbagi inspirasi kepada para pendidik se-Indonesia dalam rangka menggerakkan ekosistem pendidikan yang lebih baik demi kemajuan pendidikan Indonesia.

Bergerak Bersama, Rayakan Merdeka Belajar.


Unduh file Pedoman Peringatan Hari Guru Nasional 2023 di sini

Unduh file Panduan Penggunaan Logo di sini

Unduh file Logo HGN (.pdf)  di sini

sumber: https://www.kemdikbud.go.id/

Senin, 28 Agustus 2023

SDN 6 NGUNUT DALAM PAWAI BUDAYA LINGKUP UP ASP KEC. NGUNUT





Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) Ke 78 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) tahun 2023 ini di Kecamatan Ngunut, terus disemarakkan dengan berbagai kegiatan yang diharapkan dapat memberikan semangat perjuangan dalam mempertahankan serta mengisi kemerdekaan sesuai kateristik dan nilai-nilai budaya bangsa. Seperti halnya kegiatan Karnaval Budaya di lingkup UP ASP Kecamatan Ngunut.

 

Kegiatan Karnaval Budaya yang dilaksanakan Senin siang (28/08) diikuti oleh Sekolah Dasar Negeri dan Swasta se Kecamatan Ngunut. Pembukaan kegiatan ini diawali dengan pelepasan balon merah dan putih oleh Koordinator Wilayah UP ASP Kecamatan Ngunut Drs. Suryono, M.Pd. Dengan pelepasan balon tersebut mengandung makna harapan yang tinggi untuk mewujudkan proses dan hasil pendidikan yang lebih baik di sekolah. Di samping itu juga sebagai simbol untuk meninggalkan hal-hal yang kurang baik untuk mewujudkan mimpi bersama dalam rangka mencerdaskan anak bangsa dan mengembangkan karakter anak masa depan yang lebih cerah

 


Melalui pawai budaya diharapkan masyarakat, khususnya generasi muda dapat memiliki rasa nasionalisme, sehingga rasa tanggung jawab besar akan muncul kepada generasi muda dalam mewujudkan masyarakat adil, makmur, dan sejahtera lahir dan batin. Melalui karnaval budaya juga mampu menggali potensi-potensi sumber daya alam maupun sumber daya manusia untuk terus berkembang.

Partisipasi dan semangat masyarakat dalam karnaval menampilkan pakaian busana adat tradisional daerah di Indonesia, menandakan kebhinekaan tunggal ika Indonesia. Hal tersebut juga bisa dilihat dari antusias masyarakat yang menonton kegiatan tersebut sangat luar biasa.

Dalam kegiatan ini, SDN 6 Ngunut di bawah asuhan Ibu Mutini, S.Pd., M.Pd. ikut mengangambil bagian. Dengan mengerahkan ± 400 personil yang terbagi dalam beberapa kelompok, mulai dari kelompok bhineka, drumband, gayatri, reog kendang, Dayak Kaliantan, dayak kreasi serta kelompok orang tua wali murid SDN 6 ngunut dengan penuh semangat mensukseskan kegiatan tersebut.

Dikesempatan yang lain, Ibu Kepala Sekolah SDN 6 Ngunut mengucapkan terima kasih atas terlaksananya kegiatan tersebut.

“Alhamdulillah kegiatan Pawai Budaya/Karnafal telah berjalan lancar dan sukses. Semua bisa sampai finish dengan penuh semangat . Kegiatan ini lancar dan sukses atas kerja sama yang baik antara wali murid, paguyuban, komite, anak-anak dan sekolah.

Untuk itu atas nama pribadi, lembaga dan mewakili semua Bapak, Ibu guru dan team keluarga besar SDN 6 Ngunut menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi atas partisipasi semua pihak dalam kegiatan ini.

Tentunya apa yang kita lakukan bisa bermanfaat dan barokah untuk kita semua.

Semoga apa yang telah kita lakukan bersama  dengan ilkhas akan mendapat balasan dari Allah Tuhan YME.”

 Untuk video kegiatan bisa klik di sini




Penulis: arf_29


Rabu, 16 Agustus 2023

Konsep Dasar dan Fungsi 3R (Reuse, Reduce, Recycle)

 

Reuse, Reduce, Recycle



Secara prinsip 3R (Reduce-Reuse-Recycle) merupakan urutan langkah untuk pengelolaan sampah dengan baik. Prioritas sampah sendiri diutamakan dengan Reduce yaitu mengurangi timbulan sampah.

Didukung dengan Reuse yang berfungsi agar sampah (terutama plastik) dapat digunakan kembali, baru Recycle dibutuhkan bila ingin mendaur ulang material agar dapat digunakan dan bernilai ekonomis kembali.

Sebenarnya setelah 3R masih ada tahapan berikutnya yaitu Recover yang berfungsi untuk memulihkan bahan-bahan yang tidak lagi bisa didaur ulang agar diubah menjadi sumber energi atau bahan material yang ramah lingkungan.

Dan terakhir adalah tahap Disposal yaitu pengalokasian sampah-sampah yang tidak bisa didaur ulang maupun dijadikan nilai ekonomis. Metode 3R juga harus menurut kepada volume sampah yang harus ditangani.

Sebagian besar produksi sampah memang harus dikurangi yaitu Reduce, namun bila tidak bisa dihindari maka harus digunakan kembali, Reuse, dan pada akhirnya metode lain agar sampah-sampah yang tidak bisa digunakan kembali bisa dibuat untuk kebutuhan lain dengan Recycle.

Banyaknya metode Recycle bisa terlihat dari kerajinan tangan yang sudah dipelajari sebagai metode yang penting, seperti membuat kerajinan dari sampah plastik, pemanfaatan botol plastik sebagai pot, atau penggunaan plastik sebagai dekorasi.

Namun dari metode 3R sendiri memang yang paling utama adalah mengurangi atau mencegah produksi sampah lebih awal. Selain lingkungan masyarakat, perusahaan juga bisa bertindak langsung dalam mengamalkan metode 3R.

Penulis: arf_29

MEMAKNAI HARI KEMERDEKAAN DAN NKRI

 


Tidak terasa kita kembali akan memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang tahun ini merupakan tahun yang ke-78, ini berarti kita sudah menikmati kemerdekaan selama 78 tahun. Kemerdekaan yang kita nikmati sekarang ini tentunya bukanlah didapatkan dengan mudah, tetapi melalui perjuangan yang panjang dengan pengorbanan jiwa dan raga dari para pejuang kita yang tentunya diridhai oleh Alah SWT. 

Hanya satu kata yang keluar dari mulut para pejuang kita dalam melawan para penjajah yaitu merdeka atau mati, dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah. Pejuang kita banyak yang gugur baik pada saat memperjuangkan kemerdekaan maupun dalam mempertahankan kemerdekaan. Kita harus menyadari bahwa kemerdekaan bangsa ini memang mahal dan bahkan terlalu mahal, karena lahir dari tetesan air keringat, linangan air mata dan ceceran darah para pahlawan. 

Untuk itu, maka tugas kita sebagai generasi pelanjut menjaga kemerdekaan ini dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), mengisi kemerdekaan dengan kerja yang positif demi terwujudnya masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan. Kita menyadari bahwa di era demokrasi ini banyak sekali persoalan yang melanda negeri ini, namun kita tidak boleh pesimis dan kehilangan semanagat, kita harus selalu optimis dan mencontoh perjuangan yang dilakukan oleh para pejuang, semangat nasionalisme harus tetap dibangun dalam menghadapi semua tantangan yang akan kita hadapi kedepan. 

Oleh karena itu dalam memperingati Hari Kemerdekaan RI yang ke-78 ini, kita jangan hanya melihat dari aspek serimonialnya saja, seperti melakukan berbagai kegiatan lomba-lomba yang dilakukan oleh masyarakat atau dengan mengikuti Upacara bendera yang kita peringati setiap tanggal tujuh belas dengan penuh kegembiraan, tetapi juga perlunya kita memaknai dan menghayati bagaimana kemerdekaan itu dapat diperoleh dengan susah payah dengan pengorbanan jiwa dan raga sehingga kita dapat memiliki rasa empati dan dapat menghargai pengorbanan yang dilakukan oleh pendahulu kita. Tentunya hal ini dapat kita lakukan dengan mengisi kemerdekaan ini dengan kerja dan prestasi untuk membangun negara Republik Indonesia, termasuk menanamkan rasa nasionalisme setiap warga negara sebagai landasan dalam menjaga keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai. 

Dalam memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-78 ini, marilah kita jadikan moment ini sebagai introspeksi diri terhadap apa yang telah kita lakukan untuk bangsa ini, bukan memperdebatkan dan meributkan hal-hal yang tidak penting. Mari kita hilangkan sifat merasa paling pintar dan mau menang sendiri, sifat egois, baik individu maupun kelompok. Hari kemerdekaan tahun ini yang mengangkat tema “Terus Melaju untuk Indonesia Maju” memiliki makna yang sangat mendalam, yaitu ajakan kepada segenap masyarakat Indonesia untuk melangkah ke depan penuh semangat, tanggung jawab dan kebersamaan. 

Melalui semboyan ini pula masyarakat diingatkan untuk kembali bersama-sama bersatu dalam perbedaan dan melanjutkan perjuangan untuk menjadi bangsa yang terhormat. Dan untuk mewujudkan itu semua kita perlu bekerja dan membangun negeri ini dalam suatu kebersamaan, hampir bisa dipastikan kita tidak akan dapat membangun negeri ini tanpa ada persatuan dan kesatuan yang dilandasi kebersamaan. Bapak Proklamator kita, Bung Karno pernah mengatakan bahwa negara ini bukan milik suatu golongan, Ras, Suku, agama, ataupun kelompok tetapi negara ini adalah milik kita Bersama Bangsa Indonesia. Mencermati apa yang dikatakan Bung Karno, menunjukkan bahwa sejak awal kemerdekaan ini memang diperoleh dengan berjuang bersama-sama tanpa ada perbedaan, sehingga kita harus menjaga dan membangunnya juga secara bersama-sama pula. Bekerja dalam kebersamaan harus ditanamkan dalam hati sanubari dan dijadikan semboyan dalam memotivasi masyarakat untuk bekerja sehingga apa yang kita cita-citakan bersama dapat segera terwujud. 

Keberhasilan dalam membangun suatu bangsa tidak boleh dilihat hanya dari aspek fisiknya saja tetapi juga harus dilihat dari aspek moralitas, agar kerja dan hasil yang dicapai senantiasa mendapat ridha Allah SWT. Kita harus menghindari rasa curiga yang berlebihan, baik individu maupun kelompok yang dapat menimbulkan fitnah, menghindari provokasi dan tidak menyebarkan berita bohong (hoax) yang marak akhir-akhir ini melalui media sosial, karena kesemuanya itu akan dapat merusak persatuan dan kebersamaan dan akhirnya akan menghambat kerja kita kedepan. Merdeka dan NKRI adalah harga mati.

Penulis: arf_29

Senin, 14 Agustus 2023

Kampanye Sekolah Sehat

 

Kampanye Sekolah Sehat


Merupakan segala upaya yang dilakukan secara bersama-sama dan terus menerus oleh semua pihak mulai dari pemerintah pusat sampai ke pemerintah daerah, para mitra, satuan pendidikan, masyarakat pemangku kepentingan lainnya tentang pentingnya penerapan Sekolah Sehat dengan berfokus pada Sehat Bergizi, Sehat Fisik dan Sehat Imunisasi di satuan pendidikan.


Sehat Bergizi

ØKegiatan Sehat Bergizi terdiri dari

·        

  • Pembiasaan makan dan minum dengan gizi seimbang termasuk minum air putih, makan buah dan sayur setiap hari
  • Peningkatan pemahaman Gizi Seimbang atau Isi Piringku.
  • Menghindari/meminimalisir konsumsi makanan cepat saji; makanan/ minuman yang berpemanis, berpengawet, kurang serat, tinggi gula, garam dan lemak.
  • Pembinaan Kantin sehat.


ØIsi Piringku

Isi Piringku merupakan pedoman yang disusun oleh Kementerian Kesehatan mengampanyekan konsumsi makanan yang sesuai dengan pedoman gizi seimbang. Dalam satu piring setiap kali makan, setengah piring diisi dengan sayur dan buah, sedangkan setengah lainnya diisi dengan makanan pokok dan lauk pauk. Selain itu, Isi Piringku juga memuat ajakan untuk mengonsumsi 8 gelas air setiap hari, melakukan aktivitas fisik 30 menit setiap hari, dan mencuci tangan dengan air dan sabun sebelum dan setelah makan.


ØSepuluh Pedoman Gizi Seimbang

  • Biasakan mengonsumsi aneka ragam makanan pokok
  • Batasi konsumsi panganan manis, asin, dan berlemak
  • Lakukan aktivitas fisik yang cukup dan pertahankan berat badan ideal
  • Biasakan mengonsumsi lauk pauk yang mengandung protein tinggi
  • Cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir
  • Biasakan sarapan pagi
  • Biasakan minum air putih yang cukup dan aman
  • Banyak makan buah dan sayur
  • Biasakan membaca label pada kemasan pangan
  • Syukuri dan nikmati aneka ragam makanan


ØEmpat Komponen Kantin dan Jajanan Sehat di Sekolah ​

Dalam rangka menjamin penyelenggaraan kantin dan jajanan sehat di sekolah, terdapat beberapa komponen berikut ini yang perlu diperhatikan, sebagai berikut:

·         Komitmen dan Manajemen Sekolah (termasuk monitoring/ supervisi dan evaluasi diri penyelenggaraan kantin dan jajanan sehat di sekolah).

·         Sumber Daya Manusia (Mempunyai pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola Kantin dan jajanan sehat di sekolah).

·         Sarana dan Prasarana (Kebersihan peralatan dan lingkungan).

·         Mutu Pangan (Aman, sehat dan bergizi).



Sehat Fisik

ØKegiatan Sehat Fisik terdiri dari

  • Pelaksanaan Senam Kebugaran Jasmani (SKJ) atau senam kreasi lainnya (misalnya: Senam Gerak dan Lagu Jingle Sekolah Sehat) minimal seminggu sekali.
  • Gerakan peregangan pada pergantian jam pelajaran.
  • Optimalisasi 4 L (Lompat, Lari, Lempar, Loncat) melalui permainan rakyat dan olahraga tradisional pada jam istirahat.
  • Optimalisasi intrakurikuler dan ekstrakurikuler olahraga.
  • Pembiasaan jalan kaki
  • Pembiasaan jalan kaki
  • Pelaksanaan Tes Kebugaran Siswa Indonesia (TKSI).


ØPembiasaan Aktivitas Fisik melalui Senam Kebugaran Jasmani (SKJ)

SKJ merupakan bentuk senam massal dengan rangkaian gerak tertentu dan diiringi musik, yang berguna meningkatkan kebugaran jasmani peserta didik. Selain itu, senam kesegaran jasmani merupakan media untuk mendorong perkembangan keterampilan motorik, kemampuan fisik, pengetahuan, penalaran, penghayatan nilai (sikap, mental, emosional, spiritual, sosial) dan pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan serta perkembangan yang seimbang. Pelaksanaanya juga dapat dilakukan secara massal, mudah dan tidak memerlukan waktu yang lama.


ØBagaimana Manajemen Pelaksanaan SKJ?

  • Frekuensi : sekali seminggu
  • Waktu : pagi hari sebelum kegiatan belajar mengajar, hari pelaksanaannya ditentukan oleh sekolah
  • Sarana : halaman sekolah/lapangan/aula, pemutar musik, laptop, LCD dan layar proyektor
  • Durasi : 10 s.d. 15 menit
  • Instruktur : Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan (PJOK) dan peserta didik yang sudah terampil atau dapat meniru gerakan pada tampilan layar proyektor


ØOptimalisasi 4 L (Lari, Lompat, Loncat, Lempar) melalui Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional

Permainan rakyat dan olahraga tradisional merupakan warisan kebudayaan nenek moyang bangsa Indonesia yang tumbuh dan berkembang dalam komunitas masyarakat, diwariskan dan dimainkan dari generasi ke generasi. Penerapan permainan rakyat dan olahraga tradisional saat jam istirahat di sekolah merupakan salah satu upaya untuk melestarikan kekayaan budaya bangsa Indonesia melalui pendidikan dan menumbuhkan kembali karakter budaya bangsa. Selain itu, permainan rakyat dan olahraga tradisional dapat menjadi wadah dalam mengembangkan kemampuan motorik dan kebugaran jasmani peserta didik.


ØGerakan Peregangan pada Pergantian Jam Pelajaran

Gerakan peregangan adalah gerakan yang dilakukan untuk meningkatkan fleksibiltas otot atau jangkauan gerak sendi. Gerakan peregangan ini sangat berguna bagi peserta didik ketika mereka akan melakukan aktivitas fisik dan juga dapat melemaskan kembali bagian tubuh yang kaku setelah beraktivitas.

Gerakan peregangan ini dapat dilakukan secara bersama-sama di dalam kelas sesaat sebelum memulai kegiatan pembelajaran dan dapat juga dilakukan ketika pergantian jam pelajaran atau saat istirahat.



Sehat Imunisasi

ØKegiatan Sehat Imunisasi terdiri dari

  • Pemetaan status imunisasi. memeriksa riwayat imunisasi berdasarkan data dari fasilitas pelayanan kesehatan.
  • Pemberian rekomendasi. menyampaikan kepada orang tua atau wali tentang peserta didik yang belum mendapatkan imunisasi lengkap agar melengkapi imunisasinya.
  • Pelaksanaan imunisasi dasar lengkap bagi anak usia sekolah. Orang tua atau wali peserta didik dapat melengkapi imunisasi peserta didik


ØBulan Imunisasi Anak Sekolah

Bulan Imunisasi Anak Sekolah adalah kegiatan nasional meliputi pemberian imunisasi pada anak usia SD/MI/bentuk lain yang sederajat yang dilaksanakan dua kali setahun setiap bulan Agustus untuk imunisasi Campak Rubela dan HPV; serta pada bulan November untuk imunisasi DT dan Td


ØSasaran, Jenis dan Jadwal Pemberian Imunisasi

Sasaran BIAS adalah peserta didik kelas 1, 2, 5 dan 6 SD/MI/bentuk lain yang sederajat dan anak usia sekolah yang tidak sekolah. Jenis imunisasi yang diberikan pada pelaksanan BIAS bertujuan untuk mencegah penyakit Campak, Rubela, Difteri,Tetanus Neonatorum, dan Kanker leher rahim yang merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Imunisasi dalam kegiatan BIAS sangat bermanfaat untuk mencegah penyakit Tetanus, Difteri, Campak, Rubela dan Kanker leher rahim yang dapat menyebabkan disabilitas dan kematian. Setiap anak usia sekolah harus dipastikan memiliki riwayat imunisasi rutin lengkap, tidak hanya imunisasi pada saat bayi dan dibawah usia dua tahun, tetapi juga harus dilengkapi dengan imunisasi lanjutan pada anak usia sekolah tingkat dasar.


Sumber : https://direktoratsd.id/

Penulis: arf_29